SMPN 2 Wanayasa menggelar kegiatan makan bersama dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan, yang akrab dikenal dengan istilah munggahan, pada Rabu, 11 Februari. Kegiatan ini berlangsung di lapang sekolah dengan suasana penuh kehangatan dan kekhidmatan. Seluruh warga sekolah larut dalam kebersamaan yang sarat makna spiritual.
Sejak pagi, lapang SMPN 2 Wanayasa telah tertata rapi. Para siswa duduk berkelompok bersama wali kelas dan guru, membentuk lingkaran-lingkaran kebersamaan yang mencerminkan nilai persaudaraan. Munggahan kali ini tidak sekadar menjadi agenda rutin, tetapi momentum memperkuat ikatan hati menjelang Ramadan.
Kepala SMPN 2 Wanayasa, H. Mochamad Izudin, M.Pd., membuka kegiatan dengan sambutan hangat dan penuh makna. Dalam pesannya, beliau mengajak seluruh warga sekolah untuk menjadikan Ramadan sebagai ruang transformasi diri. Ia menegaskan bahwa munggahan bukan hanya tradisi, melainkan ikhtiar menyucikan hati sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Beliau juga menyampaikan pesan visioner agar Ramadan dijadikan sebagai titik tolak peningkatan kualitas iman, ilmu, dan amal. Menurutnya, sekolah bukan hanya tempat menimba pengetahuan, tetapi juga ladang menumbuhkan karakter dan akhlak mulia. Ramadan harus hadir sebagai energi perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa.
Suasana semakin khidmat ketika doa bersama dipanjatkan. Doa dipimpin langsung oleh Bapak Ustadz Jainul, yang dengan penuh kekhusyukan memohon agar seluruh keluarga besar SMPN 2 Wanayasa diberi kesehatan, kelapangan hati, dan kesempatan untuk menjalankan ibadah Ramadan dengan optimal.
Lantunan doa yang menggema di lapang sekolah menghadirkan ketenangan tersendiri. Para siswa menundukkan kepala, menautkan harap agar Ramadan kali ini membawa keberkahan yang lebih luas. Momen tersebut menjadi pengingat bahwa setiap langkah kehidupan perlu diawali dengan doa dan niat yang lurus.
Usai doa bersama, kegiatan makan bersama pun dimulai. Hampir seluruh kelas membawa nasi liwet yang telah disiapkan dari rumah masing-masing. Aroma khas nasi liwet yang menggoda selera menyatu dengan tawa dan canda para siswa.
Tradisi membawa nasi liwet menjadi simbol gotong royong dan kebersamaan. Setiap kelompok kelas membentangkan daun pisang sebagai alas, lalu menyajikan hidangan secara sederhana namun penuh makna. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan, semua menyatu dalam kebersahajaan.
Para guru turut duduk bersama siswa, menikmati hidangan dalam suasana akrab. Kebersamaan ini memperlihatkan harmoni hubungan antara pendidik dan peserta didik. Nilai-nilai kekeluargaan terasa begitu kuat dalam setiap percakapan dan senyuman.
Kegiatan munggahan ini juga menjadi sarana pendidikan karakter. Siswa belajar tentang berbagi, menghargai makanan, serta menjaga adab dalam kebersamaan. Momentum ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati sering kali lahir dari kesederhanaan dan rasa syukur.
Lebih dari sekadar makan bersama, munggahan di SMPN 2 Wanayasa menjadi refleksi kolektif. Seluruh warga sekolah diajak untuk saling memaafkan dan membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci. Semangat saling menguatkan pun terasa di setiap sudut lapang.
Dalam kebersamaan itu, terselip harapan agar Ramadan menjadi madrasah ruhani yang membentuk generasi berakhlak mulia. Sekolah berharap nilai-nilai yang ditanamkan melalui kegiatan ini mampu membekas dalam diri siswa, tidak hanya selama Ramadan, tetapi sepanjang hayat.
Kegiatan yang berlangsung dengan tertib dan penuh kegembiraan ini menegaskan komitmen SMPN 2 Wanayasa dalam membangun budaya religius di lingkungan sekolah. Tradisi munggahan menjadi jembatan antara kearifan lokal dan penguatan spiritualitas.
Menjelang siang, kegiatan pun ditutup dengan perasaan syukur. Lapang sekolah kembali lengang, namun hangat kebersamaan masih terasa. Munggahan tahun ini menjadi penanda bahwa Ramadan disambut bukan hanya dengan persiapan lahiriah, tetapi juga kesiapan hati dan visi keimanan yang lebih kokoh.
