SMPN 2 Wanayasa kembali menegaskan komitmennya terhadap pendidikan berbasis lingkungan melalui kegiatan penanaman pohon hanjuang yang dilaksanakan di area sekolah. Kegiatan ini bukan sekadar agenda penghijauan, melainkan bagian dari ikhtiar panjang sekolah dalam membangun kesadaran ekologis yang berakar pada nilai, makna, dan keberlanjutan.
Penanaman pohon hanjuang dipilih dengan pertimbangan matang. Selain memiliki nilai estetika yang tinggi untuk memperindah lingkungan sekolah, hanjuang juga dikenal sebagai tanaman yang kuat, adaptif, dan sarat makna filosofis dalam budaya lokal. Ia tumbuh tegak, sederhana, namun kokoh—sebuah simbol keteguhan dan perlindungan.
Secara fungsional, pohon-pohon hanjuang ini dirancang sebagai benteng sekolah berbasis tanaman. Benteng yang tidak berupa tembok kaku, melainkan pagar hidup yang ramah lingkungan, sejuk dipandang, dan menyatu dengan alam. Sebuah pendekatan yang mengajarkan bahwa perlindungan tidak selalu harus dibangun dengan kekerasan, tetapi bisa tumbuh dari harmoni.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pelestarian lingkungan. Di tengah tantangan perubahan iklim dan degradasi alam, langkah kecil seperti menanam pohon menjadi pesan besar tentang tanggung jawab bersama terhadap bumi yang dititipkan kepada generasi hari ini.
Keistimewaan lain dari kegiatan ini terletak pada keterlibatan seluruh siswa. Pohon-pohon hanjuang yang ditanam berasal dari kontribusi para siswa, menjadikan setiap tanaman bukan sekadar objek penghijauan, melainkan titipan harapan dan rasa memiliki.
Melalui proses ini, siswa diajak memahami bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar sementara, tetapi ruang hidup yang patut dijaga dan dirawat. Ketika tangan-tangan muda itu menanam pohon, sesungguhnya mereka sedang menanam keterikatan emosional dengan almamaternya.
Penanaman pohon hanjuang juga dimaknai sebagai penanda jejak perjalanan siswa. Kelak, ketika mereka telah lulus dan melangkah jauh dari SMPN 2 Wanayasa, pohon itu akan tetap berdiri, tumbuh, dan menjadi saksi bisu atas masa-masa belajar yang pernah mereka lalui.
Ada nilai filosofis yang kuat di sana. Pohon tumbuh perlahan, tidak instan, sebagaimana proses pendidikan yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketekunan. Akar yang menghunjam menjadi lambang karakter, batang yang kokoh melambangkan prinsip, dan daun yang rimbun menjadi harapan akan masa depan.
Suasana kegiatan terasa semakin bermakna karena berlangsung di bawah rintik hujan. Hujan yang turun seolah menjadi restu alam, menyiram tanah dan menyatu dengan semangat para siswa dan guru yang tetap beraktivitas dengan penuh antusias.
Rintik hujan itu tidak menghalangi langkah, justru memperindah suasana. Ia menghadirkan kesan teduh dan reflektif, seakan mengajarkan bahwa kebaikan sering kali tumbuh dalam kondisi yang sederhana, bahkan di tengah basah dan dingin.
Para pendidik yang turut mendampingi kegiatan ini memandang penanaman hanjuang sebagai media pembelajaran kontekstual. Nilai kepedulian, tanggung jawab, kebersamaan, dan cinta lingkungan tidak hanya diajarkan lewat kata, tetapi melalui tindakan nyata.
Benteng sekolah berbasis tanaman ini diharapkan menjadi identitas baru SMPN 2 Wanayasa. Identitas yang mencerminkan sekolah ramah lingkungan, berkarakter, dan berpijak pada kearifan lokal.
Ke depan, pohon-pohon hanjuang ini akan tumbuh seiring waktu, sebagaimana generasi yang pernah menanamnya. Setiap daun yang bergoyang kelak akan membawa cerita tentang siswa-siswa yang pernah belajar, bermimpi, dan tumbuh di bawah naungan sekolah ini.
Dengan kegiatan ini, SMPN 2 Wanayasa tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam nilai, kenangan, dan harapan. Sebuah jejak indah yang akan terus hidup, bahkan ketika para penanamnya telah melangkah jauh meninggalkan bangku sekolah.
