Spenda Juara
Menutup Bab, Menjaga Makna

Di hadapan waktu yang kini mengajak saya berhenti sejenak, izinkan saya menutup satu bab perjalanan dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati. Purnabakti bukanlah garis akhir, melainkan titik jeda, sebab dalam filsafat kehidupan, berhenti bukan berarti selesai, melainkan kesempatan untuk memahami makna dari setiap langkah yang pernah dilalui. Jabatan boleh berakhir, tetapi nilai dan jejak pengabdian akan terus berjalan dalam ingatan dan karya.

Dengan mengucap Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, saya panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt., Sang Pemilik Waktu dan Kehidupan. Dialah yang menggenggam awal dan akhir, serta menuntun manusia menjalani takdirnya melalui proses panjang bernama pengabdian. Selama 36 tahun 9 bulan, saya belajar bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses memanusiakan manusia, sebuah ikhtiar sunyi yang buahnya sering kali dipetik jauh setelah penanamnya pergi.

Pada kesempatan yang penuh makna ini, saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Bapak Sekdis, Bapak Kabid, Bapak Kasi, serta seluruh staf Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta. Dalam setiap arahan dan kebijakan, saya belajar satu hikmah penting bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang tanggung jawab, bukan tentang perintah, melainkan tentang teladan. Semoga setiap amanah yang telah kita tunaikan bersama bernilai ibadah di sisi Allah Swt.

Ucapan terima kasih juga saya haturkan kepada rekan-rekan kepala sekolah, para guru, serta seluruh mitra kerja yang pernah membersamai perjalanan saya. Kebersamaan di SMPN 5 Darangdan, SMPN 2 Wanayasa, SMPN 6 Purwakarta, dan SMPN 9 Purwakarta mengajarkan saya satu kearifan hidup bahwa manusia tidak pernah tumbuh sendirian. Kita dibentuk oleh perjumpaan, ditempa oleh perbedaan, dan dimatangkan oleh kebersamaan dalam tujuan yang sama.

Namun dari semua tempat pengabdian itu, SMPN 2 Wanayasa adalah ruang batin yang paling membekas. Saya pernah meninggalkannya secara struktural, namun tidak pernah secara eksistensial. Sebab dalam filsafat rasa, rumah bukan sekadar tempat kembali, melainkan tempat jiwa menemukan maknanya. Hingga akhirnya pada tahun 2021, takdir membawa saya kembali ke SMPN 2 Wanayasa, seolah kehidupan ingin menegaskan bahwa ada lingkaran yang harus ditutup dengan tuntas.

SMPN 2 Wanayasa bukan hanya lingkungan kerja, melainkan ruang kontemplasi. Suasana yang sejuk dan dingin mengajarkan saya bahwa ketenangan adalah prasyarat kebijaksanaan. Alam Wanayasa seakan berbisik, bahwa manusia yang mampu meneduhkan dirinya akan lebih jernih dalam berpikir dan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Dari keteduhan itulah semangat untuk terus berkarya tumbuh, bahkan ketika usia mulai mengajarkan arti keterbatasan.

Dalam perjalanan panjang ini, saya sampai pada satu kesadaran filosofis bahwa kesempurnaan bukanlah milik manusia, melainkan proses menuju kebaikan yang terus diupayakan. Maka dengan penuh kerendahan hati, saya memohon maaf atas segala kekhilafan, baik dalam ucapan, sikap, maupun kebijakan. Sebab manusia yang bijak bukanlah yang tanpa salah, tetapi yang berani mengakui dan memohon ampun, baik kepada sesama maupun kepada Tuhannya.

Harapan saya ke depan, semoga pendidikan di Kabupaten Purwakarta terus bergerak maju, tidak hanya dalam angka dan capaian, tetapi juga dalam nilai dan nurani. Di bawah kepemimpinan Ibu Kepala Dinas Pendidikan yang saat ini mengemban amanah, semoga pendidikan Purwakarta mampu melahirkan generasi yang cerdas pikirannya, halus perasaannya, dan kokoh akhlaknya. Sebab pendidikan sejati adalah yang mampu menyinergikan ilmu, iman, dan kemanusiaan.

Khusus untuk SMPN 2 Wanayasa tercinta, saya menitipkan harapan agar estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh sosok kepala sekolah yang amanah dan visioner, yang memahami bahwa memimpin sekolah bukan sekadar mengelola sistem, tetapi merawat manusia. Semoga SMPN 2 Wanayasa terus melahirkan prestasi, sekaligus menjaga ruh kekeluargaan dan nilai-nilai luhur yang telah lama tumbuh di dalamnya.

Kini, ketika saya resmi memasuki masa purnabakti, saya menyadari satu kebenaran sederhana bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita bekerja, tetapi seberapa bermakna kehadiran kita bagi orang lain. Oleh karena itu, saya mohon doa restu agar Allah Swt. senantiasa menganugerahkan kesehatan, ketenangan, dan keberkahan, serta memberi saya kesempatan untuk tetap berkontribusi bagi dunia pendidikan melalui jalan-jalan lain yang Dia ridhoi.

Akhir kata, semoga seluruh ikhtiar yang telah kita lakukan bersama diterima sebagai amal jariyah, dan semoga silaturahmi tetap terjaga meski peran telah berganti. Sebab dalam filsafat pengabdian, perpisahan bukanlah putusnya hubungan, melainkan perubahan bentuk kebersamaan.

Terima kasih atas kepercayaan, kebersamaan, dan doa yang telah diberikan.

Semoga Allah Swt. senantiasa meridhoi setiap langkah kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *